Sudah lama aku tidak menulis tentang filsuf hidup. Ini biasanya muncul ketika segala sesuatunya kujadikan inspirasi, yang kutumpahkan ke dalam hobi menulisku.
Kau tahu semalam adalah hari Valentine. Dimana semua wanita seolah-olah memimpikan seorang pangeran berkuda bertopeng membawa sebuket bunga indah yang diselipkannya diantara kedua bibirnya dan ditangannya sudah ada sekotak cokelat yang notabene tanda cintanya untuk sang wanita. Tapi mungkin itu tak berlaku sedikitpun untukku. Tidak dengan bunga, tidak dengan cokelat, atau sepucuk surat romantis. Aku hanya perlu rasa itu, rasa dicintai dengan tulus disebuah ruang sempit dimana aku telah menyediakan teras untuk duduk berdua dengan sang pangeran. Dimana aku bisa menatapnya dan memberikan senyuman terbaikku. Dan memeluknya.
Tapi semuanya hilang...
Hilang entah kemana, pecah seolah-olah menjadi puing-puing yang tak bisa disatukan lagi.

Aku bukan wanita yang mengidamkan cokelat sebagai bukti cinta. Cokelat itu bukan cinta.
Cinta itu takut akan kejujuran, kejujuran menyudutkanku untuk mulai meragu.
Aku suka filosofi kecilmu yang mengatakan, "Cinta itu perjuangan."
tapi bisakah kau tunjukkan dimana sisi perjuanganmu?
sekali lagi aku bertanya, DIMANA?

Ingin rasanya memencet tombol nadi untuk tidak berdenyut, atau membalikkan arah putaran darah ini sehingga waktu yang lalu kembali, dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan bodoh itu. Tapi itu sangat tidak mungkin karena itu akan membuatmu ingin muntah, mual, sakit.
Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Ini lebih besar dari itu. Dia tak bisa dihitung dengan kuota berapapun, cinta itu hanya ibarat tumbuhan yang harus selalu dipelihara, dirawat sehingga bisa memunculkan bunga yang indah. Bukan seperti cokelat yang bisa meleleh, mencair dan kemudian kau bentuk sesuai dengan keinginanmu. Bukan.
Ini hanya butuh waktu membuka diri untuk bisa duduk bersama dan membicarakan perjuangan itu. hanya itu?
Ya, hanya itu. Disini tidak ada kompromi, semuanya m
engikuti permainan hati.
Yang perlu dicamkan adalah membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya.

10.45 pm
Tidak ada tanda-tanda penyelesaian konsep filsuf ini. hemm..
tidak ada juga tanda-tanda berwarna merah dari handpphone pintar ini.
Adakah dia mulai terlelap? adakah dia memikirkanku sebelum tidur? adakah dia menginginkan perubahan yang besar untuk membuatku tergila padanya?
Bukan dengan riasan menor dan ditambahi dengan rayuan. Aku hanya mengharapkan sesuatu yang tak logis, yang membuatku berdecak kagum padamu. Aku tak mengharapkan kau untuk menjelaskan cinta yang merambah rasa ego dan dimensi akal sehatmu, aku hanya butuh prinsip kejantanan, prinsip kedewasaan, bukan hanya mengumbar kecakapan berbicara atau kecakepan. Ahh...bingungkan?
Trus, apa yang aku mau?
Cinta yang tak terbatas, cinta yang setia meski tak ada yang bisa menjamin sebuah kesetiaan, cinta yang tak bisa kau ukur kuantitasnya, cinta yang masih punya mekanisme bertahan.

GILA, ya..memang gila membuka pembicaraan ditengah malam seperti ini, ditengah kesakitanku yang tak bisa aku jelaskan disini, ditengah kebingunganku akan banyak hal, ditengah kerinduanku kepada Papa dan Mama.

Post a Comment